Tentang dia, tentang rasa
Rasa yg tidak bisa diraba
Dia bukanlah dia yang kini aku bersamanya
Dia bukanlah dia yang aku rasa sebelumnya
Dan dia bukan dia yang aku utarakan sebelumnya
Dia adalah angin yang datang saat gersang menghadang
Dia adalah air saat dahaga menjadi bulir-bulir
Dan dia adalah lilin saat malam mulai terpilin
Mungkin aku salah mengingatnya, tapi aku manusia
Mungkin aku hina bila merasa, tapi aku bahagia
Dan mungkin dia tidak pernah merasa, tapi dia selalu terasa
Aku selalu mencari matanya
Menikmati tatapan yang hadir tanpa senyuman
Merindukan sentuhan yg selalu tidak terduga
Dan mencumbu suara yang tidak pernah reda
Kamu dan matamu yang selalu aku tunggu
*hey kak, masih ingatkah saat kita makan berdua disebelah menara? Dan kau tau, aku sangat menginginkannya lagi. Tapi aku sudah berjanji pada 'dia yang pertama' untuk tidak lagi bersama semua "dia". Maaf
Selasa, 17 Februari 2015
Senin, 16 Februari 2015
Hanya sebuah kerinduan yang tak pernah terungkapkan
Kenapa aku masih mencari matanya?
Mata yang biasanya siaga dipertigaan laboratorium
Mata yg indah dan perawan
Yang belum tersentuh api ataupun salju
Aku masih mencari aromanya
Yang seperti pohon oak yang memberi kehangatan
Yang kadang tidak berbau tapi menimbulkan rindu
Dan yang.. Yang punya hanya dia
Kenapa mataku tak pernah berhentdi mengharapkan kedatanganmu
Mulutku masih mengharapkan beradu suara denganmu
Dan telingaku, masih menyimpan kerinduan mendengar suara hangatmu
Hey, kamu.. Masih ingat tempat dimana kita bertemu? Aku masih menginginkanmu berdiri disana dan akan aku ajak kamu menikmati indahnya sebagian dunia, berdua
Langganan:
Postingan (Atom)